Belajar Mengerti
Alhamdulillah, tadi pagi mbak Emma salah satu rekan kerja saya bimbingan di Rumah Sakit Jiwa sms menanyakan materi apa yang dibawa unuk senin besok. Ibu dua anak itu berkata masih tentang Al Qur’an saja biar pas satu bulan bahasan kita soal Al Qur’an, saya jawab setuju tanpa ba-bi-bu yang menandakan saya harus kembali belajr lebih giat lagi untuk menguasai materi. Pekan sebelumnya saya kasih maukkan kepada mbak Emma agar materinya tentang kejujuran, sebab lebih mengena setelah momentum Ramadhan ini. Namun walaupun saya bertindak sebagai koordinator tidak serta merta dapat memberikan masukkan apa yang bisa diberikan dalam bimbingan.
Atmosfer Rumah Sakit Jiwa dengan dinding yang tinggi membuat saya rindu, bukan untuk menjadi pasiennya -waliyadzubillah-, namun merindukan saya untuk senantiasa mensyukuri nikmat dari Allah atas diri saya. Di RSJ tidak seperti di rumah sakit lain. Disana kita dituntut untuk lebih pengertian dengan keadaan yang ada. Seorang Sahabat Pasien harus memenuhi kebutuhannya sendiri tidak seperti di rumah Sakit lain yang segala sesuatu acapkali di fasilitasi. Tapi di RSJ kita dituntut mandiri agar mengerti.
Berbicara soal mengerti, maka izinkan saya untuk berbagi banyak atau sedikit hal tentang ini. Kita seringkali hidup dengan banyak sisi bahkan tak ayal sisi satu dengan yang lain berbenturan. Tentunya bukan keinginan kita namun hal tersebut memang sebuah jalan hidup yang telah digariskan. Seseorang harus belajar mengerti sebelum dirinya dimengerti oleh orang lain. Seseorang tidak boleh punya watak arogansi agar orang lain dapat memberikan perhatian kepadanya terlebih dahulu dan seenak perutnya saja. Melainkan seharusnya dialah yang memberikan pengertian terlebih dahulu. Bukankah seorang guru tidak akan bisa memberikan tugas kepada para muridnya sebelum si guru tersebut memberikan pengertian kepada mereka, lantas mereka (para siswa) mengerti maksud yang diinginkan oleh guru tersebut dan patuh mengikuti aturan dalam mengerjakannya.
Bukankah pula kita juga mengenal tentang analogi tarik menrik, sebuh benda akan memberikan reaksi balik yang sama apabila ada dasar dan gaya tarik-menarik yang tepat. Jika kedua benda diam atau hanya satu benda saja yang menarik tanpa mendapatkan reaksi balik. Maka hal demikian tidak disebut sebagai suatu sistem bukan? Dalam Islam, bukankah seseorang jika dirinya menginginkan rezeki lebih banyak lagi diperlukan sebuah rasa saling memberi lebih banyak lagi kepada mereka yang hidup disekitarnya dan membutuhkan sesuatu bagi dirinya?
Itulah hakikat sebuah pengertian bagi saya, menjadi seorang Sahabt Pasien membawa saya kepada dunia tanpa batas dalam menemukan berbagai teori serta definisi. Tidak perlu susah-susah menghafalkan teori dan makna tersembunyi dibaliknya. Teori yang baik ialah dari diri kita sendiri dan mendedikasikannya bagi orang lain. Jadi seseorang apabila ingin dimengerti oleh rang lain, hendaklah ia harus memberikan pengertian kepada orang lain. Proses pengertian akan melahirkan sebuah proses memahami. Proses memahami yang paling tinggi ialah dicapai pada sebuah hubungan rumah tangga ataupun persahabatan sejati. Jika sebuah hubungan hanya menepuk sebelah kaki untuk mengerti tanpa berusaha menepuk kaki lain. Mana mungkin sebuah sinergi tubuh untuk berjalan dapat terealisasi.
Seperti judul tulisan ini yakni belajar mengerti dan hanya sekedar opini. Setiap orang punya pendapat berbeda atas banyak hal dan sudut pandang beserta garis tinjau yang berlainan tentang masalah ini. Dan sebuah kesalahanmestilah dimaafkan. Sebab saya sedang belajar untuk lebih banyak mengerti, bagaimana dengan anda?



Oktober 13th, 2008 at 11:29
~sama~