Sebuah Amanah dan Langkah Sejarah
Baru setahun (hingga tulisan ini ditorehkan) rasanya saya mengemban dan mencoba belajar menjadi seorang guru, namun alangkah kagetnya hari ini ketika ketua yayasan beserta pihak terkait mengamanahkan diri saya menjadi seorang pejabat sementara Kepala Sekolah. Tentu sebuah musibah besar, sebab saya berada pada posisi yang belum siap dan sedang sangat butuh untuk banyak belajar terhadap isu-isu kependidikan. Terlebih, jenjang yang di pegang ialah Sekolah Dasar. Sebuah jenjang pendidikan yang penuh dengan pembekalan dan persiapan bagi semua elemen peserta didik. Jenjang pendidikan dengan rally etape terpanjang dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Ada beban moral, sebab saya yang masih terbilang usia dini ini dibebankan sebuah posisi penuh dengan tanggung jawab luar biasa, sekalipun itu adalah pejabat sementara. Namun di sisi siapa pun, pejabat sementara adalah pejabat yang mesti memiliki cita rasa tersendiri. Pejabat sementara harus siap untuk menjadi tameng bagi lembaga dimana pun ia berada.
Keputusan sulit untuk menolak, mengingat ada banyak hal tak bisa terlontar. Namun, di tulisan ini setidaknya hingga bulan desember 2011 nanti, saya masih berusaha untuk melakukan pembenahan manajerial di lembaga pendidikan kami. Sebuah langkah yang semoga mendapatkan dukungan banyak pihak dan motivasi dari orang-orang sekitar. Amanah ini adalah sebuah langkah sejarah, amanah luar biasa bagi pribadi saya yang seharusnya butuh belajar lebih disiplin lagi akan kecakapan dalam memimpin organisasi. Tentunya, semoga Allah memudahkan langkah saya untuk mengemban tugas ini. Yaa Mujiiba saa’ilin
Kesan Berkenan Akhir Pelajaran
Tahun ajaran baru 2010-2011 berakhir sudah, seperti biasa para orangtua murid berjajar rapi menggandeng anak-anaknya bersama menyongsong titimangsa (bahasa baku untuk mengambil raport). Hari kenaikan kelas tentu disambut banyak insan lembaga pendidikan sebagai moment pembelajaran dan pendewasaan. Bagi anak murid melangkah ke jenjang kelas berikutnya ialah berjalan menuju kedewasaan. Sedangkan bagi para pendidik, artinya ialah pembelajaran sejauhmana ia sukses dalam mengantarkan siswa-siswinya menuju hasil belajar optimal.
Ah, saya memang sedang tidak ingin membahas secara filosofis. Postingan kali ini bernada lepas beban saya, setelah menjadi panitia UKK (Ulangan Kenaikan Kelas). Seperti biasa, setiap walikelas (menjadi rahasia umum) panen hadiah. Baik itu kertas panjang putih dengan di lem rekat, atau kado dengan banyak motif. Bagi guru kelas seperti saya, sangat amat bahagia dengan diberikannya hadiah dari para walimurid. Seakan mendidik mereka menjadi momen berkesan dan menorehkan banyak pembelajaran. Oh iya sebagian dari kado-kadonya antara lain dua buah sirwal, satu buah gamis putih, dan satu buah kemeja elegan.. terima kasih kadonya. Maaf foto sulit untuk ditampilkan
Semarak Pasca EHB di Al Hilal
Setelah bertempur melawan soal-soal dan berkutat untuk mengejar target di sekolah, sahabat-sahabat kecil saya di SD yang penuh energi senantiasa antusias ketika UKK ( Ulangan Kenaikan Kelas ) selesai. Sebab panitia UKK yang terdiri dari para guru akan menggelar sebuah selebrasi bagi mereka berbentuk perlombaan dan kelak akan berbekas dihati merka.
Beberapa acara tersebut adalah kegiatan yang bersifat team work, sebab selalu mewakili kelas, bukan perorangan. Ini ada untuk memupuk kedisiplinan dan kemampuan untuk life together. Lomba-lomba yang dilaksanakan disambut dengan antusias baik oleh murid pria maupun wanita. Beberapa diantaranya sempat saya abadikan.

Selamat Datang Tugas Baru
Bagi saya ngeblog adalah hal yang telah dilakukan beberapa tahun lalu. Mungkin bagi orang lain juga demikian. Setidaknya ada banyak tujuan mengapa sih harus ngeblog. Tujuan-tujuan tersebut bisa didasari oleh beberapa hal, sebagai bentuk eksistensi serta aktualisasi. Ngeblog adalah sebuah dunia bebas tanpa batas untuk berimprovisasi. Setiap hal yang ingin dikatakan dapat terucap, dan segala sesuatu yang awalnya disembunyikan dapat diuraikan. Kesenangan sendiri tentunya bagi mereka yang telah merasakan nikmatnya ngeblog.
Sajak Buat Istri Yang Buta Dari Suaminya Yang Tuli
Maksud sajak ini sungguh sederhana.
Hanya ingin memberitahumu bahwa baju
yang kita kenakan saat duduk di pelaminan
warnanya hijau daun pisang muda, tetapi
yang membungkus kue-kue pengantin
adalah daun pisang tua. Memang keduanya
hijau, tetapi hijau yang berbeda, Sayang.
Di kepalamu ada bando berhias bunga,
kau merasakannya tetapi mungkin tidak
tahu bunga-bunga itu adalah melati putih.
Sementara di kepalaku bertengger sepasang
burung merpati, juga berwarna putih.
Aku selalu membayangkan, hari itu, kita
seperti sepasang pohon di musim semi.
Kau pohon penuh kembang. Aku pohon
yang ditempati burung merpati bersarang.
Aku lihat, orang-orang datang dan tersenyum.
Mereka berbincang sambil menyantap makanan.
Tapi aku tak dengar apa yang mereka bincangkan.
Maukah kau mengatakannya padaku, Sayang?
(Aan Mansyur, 2007)
diambil dari : Hujan Reda